<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Klinik Luka Kitamura</title>
	<atom:link href="http://www.klinikkitamura.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.klinikkitamura.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<lastBuildDate>Sun, 04 Jul 2010 01:14:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Combustio</title>
		<link>http://www.klinikkitamura.com/?p=127</link>
		<comments>http://www.klinikkitamura.com/?p=127#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 23:29:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wound Care]]></category>
		<category><![CDATA[bakar]]></category>
		<category><![CDATA[burn]]></category>
		<category><![CDATA[combustio]]></category>
		<category><![CDATA[luka]]></category>
		<category><![CDATA[perawatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinikkitamura.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Luka bakar merupakan jenis luka, kerusakan jaringan atau kehilangan jaringan yang diakibatkan sumber panas ataupun suhu dingin yang tinggi, sumber listrik, bahan kimiawi, cahaya, radiasi dan friksi. Jenis luka dapat beraneka ragam dan memiliki penanganan yang berbeda tergantung jenis jaringan yang terkena luka bakar, tingkat keparahan, dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut. Luka bakar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">Luka bakar merupakan jenis luka, kerusakan jaringan atau kehilangan jaringan yang diakibatkan sumber panas ataupun suhu dingin yang tinggi, sumber listrik, bahan kimiawi, cahaya, radiasi dan friksi. Jenis luka dapat beraneka ragam dan memiliki penanganan yang berbeda tergantung jenis jaringan yang terkena luka bakar, tingkat keparahan, dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut. Luka bakar dapat merusak jaringan otot, tulang, pembuluh darah dan jaringan epidermal yang mengakibatkan kerusakan yang berada di tempat yang lebih dalam dari akhir sistem persarafan. Seorang korban luka bakar dapat mengalami berbagai macam komplikasi yang fatal termasuk diantaranya kondisi shock, infeksi, ketidak seimbangan elektrolit (inbalance elektrolit) dan masalah distress pernapasan. Selain komplikasi yang berbentuk fisik, luka bakar dapat juga menyebabkan distress emosional (trauma) dan psikologis yang berat dikarenakan cacat akibat luka bakar dan bekas luka (scar).</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;"><span id="more-127"></span>Diagnosis luka bakar harus meliputi:</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">1.	Etiologi</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">2.	Derajat luka bakar</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">3.	Luas luka bakar</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">Etiologi</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">Luka bakar dapat disebabkan oleh banyak hal:</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">1.	Panas (misal api, air panas, uap panas)</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">2.	Radiasi</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">3.	Listrik</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">4.	Kimia</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">5.	Laser</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">Bahan kimia chemicals yang dapat menyebabkan luka bakar adalah Asam kuat atau basa kuat acids atau bases.[1] Luka bakar akibat bahan kimia umumnya disebabkan karena sifat kimiawi bahan tersebut yang tajam dan dapat membakar kulit, seperti [sodium hidroksida]], silver nitrate, dan bahan kimia berbahaya lainnya (seperti asam sulfur ataupun asam nitrat).[2] Asam hidroflorik dapat menyebabkan kerusakan tulang, namun jenis kerusakan yang terjadi sulit dibuktikan.[3]</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">Derajat Luka Bakar</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">Klasifikasi dari derajat luka bakar yang banyak digunakan di dunia medis adalah jenis &#8220;Superficial Thickness&#8221;, &#8220;Partial Thickness&#8221; dan &#8220;Full Thickness&#8221; dimana pembagian tersebut didasarkan pada sejauh mana luka bakar menyebabkan perlukaan apakah pada epidermis, dermis ataukah lapisan subcutaneous dari kulit. Pengklasifikasian luka tersebut digunakan untuk panduan pengobatan dan memprediksi prognosis &#8216;Tael 1. Deskripsi dari klasifikasi luka bakar .</div>
<p style="text-align: justify;">Luka bakar merupakan jenis luka, kerusakan jaringan atau kehilangan jaringan yang diakibatkan sumber panas ataupun suhu dingin yang tinggi, sumber listrik, bahan kimiawi, cahaya, radiasi dan friksi. Jenis luka dapat beraneka ragam dan memiliki penanganan yang berbeda tergantung jenis jaringan yang terkena luka bakar, tingkat keparahan, dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut. Luka bakar dapat merusak jaringan otot, tulang, pembuluh darah dan jaringan epidermal yang mengakibatkan kerusakan yang berada di tempat yang lebih dalam dari akhir sistem persarafan. Seorang korban luka bakar dapat mengalami berbagai macam komplikasi yang fatal termasuk diantaranya kondisi shock, infeksi, ketidak seimbangan elektrolit (inbalance elektrolit) dan masalah distress pernapasan. Selain komplikasi yang berbentuk fisik, luka bakar dapat juga menyebabkan distress emosional (trauma) dan psikologis yang berat dikarenakan cacat akibat luka bakar dan bekas luka (scar).Diagnosis luka bakar harus meliputi:1.	Etiologi2.	Derajat luka bakar3.	Luas luka bakar<br />
EtiologiLuka bakar dapat disebabkan oleh banyak hal:1.	Panas (misal api, air panas, uap panas)2.	Radiasi3.	Listrik4.	Kimia5.	LaserBahan kimia chemicals yang dapat menyebabkan luka bakar adalah Asam kuat atau basa kuat acids atau bases.[1] Luka bakar akibat bahan kimia umumnya disebabkan karena sifat kimiawi bahan tersebut yang tajam dan dapat membakar kulit, seperti [sodium hidroksida]], silver nitrate, dan bahan kimia berbahaya lainnya (seperti asam sulfur ataupun asam nitrat).[2] Asam hidroflorik dapat menyebabkan kerusakan tulang, namun jenis kerusakan yang terjadi sulit dibuktikan.[3]<br />
Derajat Luka BakarKlasifikasi dari derajat luka bakar yang banyak digunakan di dunia medis adalah jenis &#8220;Superficial Thickness&#8221;, &#8220;Partial Thickness&#8221; dan &#8220;Full Thickness&#8221; dimana pembagian tersebut didasarkan pada sejauh mana luka bakar menyebabkan perlukaan apakah pada epidermis, dermis ataukah lapisan subcutaneous dari kulit. Pengklasifikasian luka tersebut digunakan untuk panduan pengobatan dan memprediksi prognosis &#8216;Tabel 1. Deskripsi dari klasifikasi luka bakar .</p>
<table class="MsoNormalTable" style="background: #F9F9F9; border-collapse: collapse; border: none; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-yfti-tbllook: 1184;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="mso-yfti-irow: 0; mso-yfti-firstrow: yes;">
<td style="border: solid #AAAAAA 1.0pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; background: #F2F2F2; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12pt; margin-left: 0cm; line-height: normal; text-align: center;"><strong><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;">Klasifikasi baru</span></strong></p>
</td>
<td style="border: solid #AAAAAA 1.0pt; border-left: none; mso-border-left-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; background: #F2F2F2; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12.0pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;">klasifikasi tradisional</span></strong></p>
</td>
<td style="border: solid #AAAAAA 1.0pt; border-left: none; mso-border-left-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; background: #F2F2F2; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12.0pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: normal;"><strong><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;">kedalaman luka bakar</span></strong></p>
</td>
<td style="border: solid #AAAAAA 1.0pt; border-left: none; mso-border-left-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; background: #F2F2F2; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12pt; margin-left: 0cm; line-height: normal; text-align: center;"><strong><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;">bentuk klinis</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr style="mso-yfti-irow: 1;">
<td style="border: solid #AAAAAA 1.0pt; border-top: none; mso-border-top-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12.0pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;">Superficial thickness</span></p>
</td>
<td style="border-top: none; border-left: none; border-bottom: solid #AAAAAA 1.0pt; border-right: solid #AAAAAA 1.0pt; mso-border-top-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-left-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12.0pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;">Derajat 1</span></p>
</td>
<td style="border-top: none; border-left: none; border-bottom: solid #AAAAAA 1.0pt; border-right: solid #AAAAAA 1.0pt; mso-border-top-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-left-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12.0pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;">Lapisan Epidermis</span></p>
</td>
<td style="border-top: none; border-left: none; border-bottom: solid #AAAAAA 1.0pt; border-right: solid #AAAAAA 1.0pt; mso-border-top-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-left-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12.0pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;"><a title="Erythema( kemerahan ) (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Erythema(_kemerahan_)&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="mso-bidi-font-size: 11.0pt; color: windowtext; text-decoration: none; text-underline: none;">Erythema( kemerahan )</span></a>, Rasa sakit seperti   tersengat, blisters( Gelembung cairan )</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="mso-yfti-irow: 2;">
<td style="border: solid #AAAAAA 1.0pt; border-top: none; mso-border-top-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12.0pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;">Partial thickness — superficial</span></p>
</td>
<td style="border-top: none; border-left: none; border-bottom: solid #AAAAAA 1.0pt; border-right: solid #AAAAAA 1.0pt; mso-border-top-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-left-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12.0pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;">Derajat 2</span></p>
</td>
<td style="border-top: none; border-left: none; border-bottom: solid #AAAAAA 1.0pt; border-right: solid #AAAAAA 1.0pt; mso-border-top-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-left-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12.0pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;">Epidermis Superficial (Lapisan   papillary)</span><span style="font-size: 10.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;"> </span><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;"><a title="Dermis (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dermis&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="mso-bidi-font-size: 11.0pt; color: windowtext; text-decoration: none; text-underline: none;">dermis</span></a></span></p>
</td>
<td style="border-top: none; border-left: none; border-bottom: solid #AAAAAA 1.0pt; border-right: solid #AAAAAA 1.0pt; mso-border-top-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-left-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12.0pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;">Blisters ( Gelembung cairan ),   Cairan bening ketika gelembung dipecah, dan rasa sakit nyeri</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="mso-yfti-irow: 3;">
<td style="border: solid #AAAAAA 1.0pt; border-top: none; mso-border-top-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12.0pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;">Partial thickness — deep</span></p>
</td>
<td style="border-top: none; border-left: none; border-bottom: solid #AAAAAA 1.0pt; border-right: solid #AAAAAA 1.0pt; mso-border-top-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-left-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12.0pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;">Deep (reticular) dermis</span></p>
</td>
<td style="border-top: none; border-left: none; border-bottom: solid #AAAAAA 1.0pt; border-right: solid #AAAAAA 1.0pt; mso-border-top-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-left-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12.0pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;">Sampai pada lapisan berwarna   putih, Tidak terlalu sakit seperti superficial derajat 2. sulit dibedakan   dari full thickness</span></p>
</td>
<td style="border: none; border-right: solid #AAAAAA 1.0pt; mso-border-right-alt: solid #AAAAAA .75pt; padding: .75pt .75pt .75pt .75pt;"></td>
</tr>
<tr style="mso-yfti-irow: 4; mso-yfti-lastrow: yes;">
<td style="border: solid #AAAAAA 1.0pt; border-top: none; mso-border-top-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12.0pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;">Full thickness</span></p>
</td>
<td style="border-top: none; border-left: none; border-bottom: solid #AAAAAA 1.0pt; border-right: solid #AAAAAA 1.0pt; mso-border-top-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-left-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12.0pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;">Derajat 3 atau 4</span></p>
</td>
<td style="border-top: none; border-left: none; border-bottom: solid #AAAAAA 1.0pt; border-right: solid #AAAAAA 1.0pt; mso-border-top-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-left-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12.0pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;">Dermis dan struktuir tubuh dibawah   dermis</span><span style="font-size: 10.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;"> </span><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;"><a title="Fascia (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Fascia&amp;action=edit&amp;redlink=1"><span style="mso-bidi-font-size: 11.0pt; color: windowtext; text-decoration: none; text-underline: none;">Fascia</span></a>,</span><span style="font-size: 10.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;"> </span><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;"><a title="Tulang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tulang"><span style="mso-bidi-font-size: 11.0pt; color: windowtext; text-decoration: none; text-underline: none;">Tulang</span></a>, or</span><span style="font-size: 10.0pt; mso-bidi-font-size: 11.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;"> </span><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;"><span style="mso-bidi-font-size: 11.0pt; color: windowtext; text-decoration: none; text-underline: none;"><a title="Otot" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Otot">Otot</a></span></span></p>
</td>
<td style="border: solid #AAAAAA 1.0pt; border-left: none; mso-border-left-alt: solid #AAAAAA .75pt; mso-border-alt: solid #AAAAAA .75pt; padding: 2.4pt 2.4pt 2.4pt 2.4pt;">
<p class="MsoNormal" style="margin-top: 12.0pt; margin-right: 0cm; margin-bottom: 12.0pt; margin-left: 0cm; text-align: justify; line-height: normal;"><span style="font-size: 10.0pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; mso-fareast-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-fareast-language: IN;">Berat, adanya eschar seperti kulit   yang melelh, cairan berwarna , tidak didapatkan sensasi rasa sakit</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: justify;">Luka bakar juga harus diklasifikasikan sesuai dengan TBSA ( total body surface area ), dengan mempertimbangkan daerah dengan luka bakar jenis partial thickness atau full thickness (Luka bakar jenis superficial thickness tidak banyak digunakan).</p>
<p>Luas Luka Bakar</p>
<p>Dalam dunia kedokteran perkiraan luas luka bakar yang banyak digunakan adalah dengan menggunakan metoda rule of Nine dari wallace dengan membagi tubuh seseorang yang terkena luka bakar menjadi beberapa area.</p>
<p>Manajemen</p>
<p>Pre Hospital</p>
<p>Seorang yang sedang terbakar akan merasa panik, dan akan belari untuk mencari air. Hal ini akan sebaliknya akan memperbesar kobaran api karena tertiup oleh angin. Oleh karena itu, segeralah hentikan (stop), jatuhkan (drop), dan gulingkan (roll) orang itu agar api segera padam. Bila memiliki karung basah, segera gunakan air atau bahan kain basah untuk memadamkan apinya. Sedanguntuk kasus luka bakar karena bahan kimia atau benda dingin, segera basuh dan jauhkan bahan kimia atau benda dingin. Matika sumber listrik dan bawa orang yang mengalami luka bakar dengan menggunakan selimut basah pada daerah luka bakar. Janga membawa orang dengan luka bakar dalam keadaan terbuka karena dapat menyebabkan evaporasi cairan tubuh yang terekspose udara luar dan menyebabkan dehidrasi. Orang dengan luka bakar biasanya diberikan obat-obatan penahan rasa sakit jenis analgetik : Antalgin, aspirin, asam mefenamat samapai penggunaan morfin oleh tenaga medis</p>
<p>Hospital</p>
<p>Setiap pasien luka bakar harus dianggap sebagai pasien trauma, karenanya harus dicek Airway, breathing dan circulation-nya terlebih dahulu.</p>
<p>1.<span style="white-space: pre;"> </span>Airway &#8211; apabila terdapat kecurigaan adanya trauma inhalasi, maka segera pasang Endotracheal Tube (ET). Tanda-tanda adanya trauma inhalasi antara lain adalah: riwayat terkurung dalam api, luka bakar pada wajah, bulu hidung yang terbakar, dan sputum yang hitam.</p>
<p>2.<span style="white-space: pre;"> </span>Breathing &#8211; eschar yang melingkari dada dapat menghambat gerakan dada untuk bernapas, segera lakukan escharotomi. Periksa juga apakah ada trauma-trauma lain yang dapat menghambat gerakan pernapasan, misalnya pneumothorax, hematothorax, dan fraktur costae</p>
<p>3.<span style="white-space: pre;"> </span>Circulation &#8211; luka bakar menimbulkan kerusakan jaringan sehingga menimbulkan edema. pada luka bakar yang luas dapat terjadi syok hipovolumik karena kebocoran plasma yang luas. Manajemen cairan pada pasien luka bakar, dapat diberikan dengan Formula Baxter.</p>
<p>Formula Baxter</p>
<p>1.<span style="white-space: pre;"> </span>Total cairan = 4cc x berat badan x luas luka bakar</p>
<p>2.<span style="white-space: pre;"> </span>Berikan 50% dari total cairan dalam 8 jam pertama, dan sisanya dalam 16 jam berikutnya</p>
<p>Perawatan Luka</p>
<p>Referensi</p>
<p>1.<span style="white-space: pre;"> </span>Chemical Burn Causes emedicine Health Accessed February 24, 2008</p>
<p>2.<span style="white-space: pre;"> </span>Chemical Burn Causes eMedicine Accessed February 24, 2008</p>
<p>3.<span style="white-space: pre;"> </span>Hydrofluoric Acid Burns emedicine Accessed February 24, 2008</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinikkitamura.com/?feed=rss2&amp;p=127</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pressure Ulcer</title>
		<link>http://www.klinikkitamura.com/?p=118</link>
		<comments>http://www.klinikkitamura.com/?p=118#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 18:23:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wound Care]]></category>
		<category><![CDATA[dekubitus]]></category>
		<category><![CDATA[luka]]></category>
		<category><![CDATA[pressure]]></category>
		<category><![CDATA[tekan]]></category>
		<category><![CDATA[ulcer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinikkitamura.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinikkitamura.com/?feed=rss2&amp;p=118</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Venous Ulcer</title>
		<link>http://www.klinikkitamura.com/?p=114</link>
		<comments>http://www.klinikkitamura.com/?p=114#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 17:49:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wound Care]]></category>
		<category><![CDATA[diabetes]]></category>
		<category><![CDATA[luka]]></category>
		<category><![CDATA[ulcer]]></category>
		<category><![CDATA[vena]]></category>
		<category><![CDATA[venous]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinikkitamura.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinikkitamura.com/?feed=rss2&amp;p=114</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arterial Ulcer</title>
		<link>http://www.klinikkitamura.com/?p=107</link>
		<comments>http://www.klinikkitamura.com/?p=107#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 17:05:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wound Care]]></category>
		<category><![CDATA[arteri]]></category>
		<category><![CDATA[arterial]]></category>
		<category><![CDATA[diabetes]]></category>
		<category><![CDATA[ulcer. luka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinikkitamura.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinikkitamura.com/?feed=rss2&amp;p=107</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diabetik Foot Ulcer</title>
		<link>http://www.klinikkitamura.com/?p=103</link>
		<comments>http://www.klinikkitamura.com/?p=103#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 16:28:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wound Care]]></category>
		<category><![CDATA[diabates]]></category>
		<category><![CDATA[kencing]]></category>
		<category><![CDATA[luka]]></category>
		<category><![CDATA[manis]]></category>
		<category><![CDATA[wound]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinikkitamura.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinikkitamura.com/?feed=rss2&amp;p=103</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>7 Langkah Turunkan Hipertensi</title>
		<link>http://www.klinikkitamura.com/?p=66</link>
		<comments>http://www.klinikkitamura.com/?p=66#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 10:13:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[darah]]></category>
		<category><![CDATA[hipertensi]]></category>
		<category><![CDATA[langkah]]></category>
		<category><![CDATA[tinggi]]></category>
		<category><![CDATA[turunkan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinikkitamura.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[Bagi para penderita tekanan darah tinggi, penting mengenal hipertensi dengan membuat perubahan gaya hidup positif. Jika anda baru saja menemukan tekanan darah anda tinggi dan tengah berusaha menurunkannya, tak perlu khawatir ikuti tujuh langkah berikut untuk membantu mengatasinya: Langkah 1: Mengetahui resiko. Tanya pada diri sendiri pertanyaan berikut: Apakah anda memiliki sejarah keluarga penderita hipertensi? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Bagi para penderita tekanan darah tinggi, penting mengenal hipertensi dengan membuat perubahan gaya hidup positif. Jika anda baru saja menemukan tekanan darah anda tinggi dan tengah berusaha menurunkannya, tak perlu khawatir ikuti tujuh langkah berikut untuk membantu mengatasinya:</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah 1: Mengetahui resiko.<br />
Tanya pada diri sendiri pertanyaan berikut: Apakah anda memiliki sejarah keluarga penderita hipertensi? Apakah anda memiliki berat badan berlebih? Apakah anda makan makanan berkadar garam tinggi? Apakah anda cukup olahraga atau apakah anda perokok? Jika jawaban and ya pada salah satu pertanyaan di atas, anda beresiko memiliki tekanan darah tinggi.</p>
<p><span id="more-66"></span>Langkah 2: Mengontrol pola makan.<br />
Apabila anda ingin terhindar dari resiko hipertensi, jauhi makan makanan berlemak dan mengandung garam. American Heart Association menyarankan konsumsi maksimum garam sebanyak satu sendok teh per hari. Sementara lemak memang dibutuhkan tubuh namun dalam jumlah kecil yaitu untuk menjaga tubuh tetap berfungsi karena itu konsumsi lemak disarankan kurang dari 30% dari konsumsi kalori setiap hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah 3: Tingkatkan konsumsi potasium (K) dan magnesium (mg).<br />
Pola makan yang rendah potasium magnesium menjadi salah satu faktor pemicu tekanan darah tinggi. Buah-buahan dan sayuran segar adalah sumber terbaik bagi kedua nutrisi tersebut. Tidak heran dokter menyarankan memperbanyak buah-buahan dan sayuran untuk menurunkan tekanan darah.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah 4: Makan makanan jenis padi-padian.<br />
Dalam sebuah penelitian yang dimuat dalam American Journal pf Clinical Nutrition ditemukan pria yang makan sedikitnya satu porsi per hari sereal dari jenis padi-padian kecil kemungkinan terkena penyakit jantung hingga 20%. Semakin banyak konsumsi jenis padi-padian, semakin rendah resiko penyakit koroner termasuk tekanan darah tinggi. Satu langkah penting menurunkan tekanan darah tinggi dan menghindari komplikasi akibat hipertensi adalah sesederhana memilih roti gandum alih-alih makan beras putih atau beras merah.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah 5: Tingkatkan aktivitas.<br />
Tidak diragukan meningkatkan aktivitas dapat menurunkan resiko tekanan darah tinggi. Anda tidak perlu berolahraga seperti seorang atlit, hanya 30 sampai 45 menit lima hari dalam seminggu cukup untuk menurunkan hipertensi.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah 6: Sertakan bantuan dari kelompok pendukung.<br />
Sertakan keluarga dan teman menjadi kelompok pendukung pola hidup sehat. Dukungan dan partisipasi orang lain membuatnya lebih mudah dan lebih asyik bagi setiap orang. Penelitian menujukan dukungan kelompok terbukti berhasil dalam membuat perubahan gaya hidup untuk mencegah tekanan darah tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah 7: Berhenti merokok.<br />
Jika anda tidak merokok, itu baik bagi anda. Jika anda merokok, berhenti sekarang juga. Walaupun merokok tidak ada kaitan dengan timbulnya tekanan darah tinggi, merokok meningkatkan resiko komplikasi lain seperti penyakit jantung dan stroke pada mereka penderita hipertensi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sumber : www.keluargasehat.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinikkitamura.com/?feed=rss2&amp;p=66</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khitanan dengan Smart Klamp</title>
		<link>http://www.klinikkitamura.com/?p=57</link>
		<comments>http://www.klinikkitamura.com/?p=57#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 10:01:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khitanan]]></category>
		<category><![CDATA[khitanan]]></category>
		<category><![CDATA[klamp]]></category>
		<category><![CDATA[perawatan]]></category>
		<category><![CDATA[smart]]></category>
		<category><![CDATA[sunat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinikkitamura.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang yang masih mengganggap penyakit diabetes merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor keturunan. Padahal, setiap orang dapat mengidap diabetes, baik tua maupun muda, termasuk Anda. Namun, yang perlu anda pahami adalah anda tidak sendiri. Menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">Banyak orang yang masih mengganggap penyakit diabetes merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor keturunan. Padahal, setiap orang dapat mengidap diabetes, baik tua maupun muda, termasuk Anda. Namun, yang perlu anda pahami adalah anda tidak sendiri.</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">Menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. Pada tahun 2000 yang lalu saja, terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes.</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">Namun, pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 persen yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30 persen yang datang berobat teratur.</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">Sangat disayangkan bahwa banyak penderita diabetes yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit yang lebih sering disebut penyakit gula atau kencing manis. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi di masyarakat tentang diabetes terutama gejala-gejalanya.</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">Sebagian besar kasus diabetes adalah diabetes tipe 2 yang disebabkan faktor keturunan. Tetapi faktor keturunan saja tidak cukup untuk menyebabkan seseorang terkena diabetes karena risikonya hanya sebesar 5%. Ternyata diabetes tipe 2 lebih sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas alias kegemukan akibat gaya hidup yang dijalaninya.</div>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-57"></span>Banyak orang yang masih mengganggap penyakit diabetes merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor keturunan. Padahal, setiap orang dapat mengidap diabetes, baik tua maupun muda, termasuk Anda. Namun, yang perlu anda pahami adalah anda tidak sendiri.<br />
Menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. Pada tahun 2000 yang lalu saja, terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes.<br />
Namun, pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 persen yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30 persen yang datang berobat teratur.<br />
Sangat disayangkan bahwa banyak penderita diabetes yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit yang lebih sering disebut penyakit gula atau kencing manis. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi di masyarakat tentang diabetes terutama gejala-gejalanya.<br />
Sebagian besar kasus diabetes adalah diabetes tipe 2 yang disebabkan faktor keturunan. Tetapi faktor keturunan saja tidak cukup untuk menyebabkan seseorang terkena diabetes karena risikonya hanya sebesar 5%. Ternyata diabetes tipe 2 lebih sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas alias kegemukan akibat gaya hidup yang dijalaninya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">sumber: www.cybermed.cbn.net.id</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinikkitamura.com/?feed=rss2&amp;p=57</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DIABETES,The Silent Killer</title>
		<link>http://www.klinikkitamura.com/?p=51</link>
		<comments>http://www.klinikkitamura.com/?p=51#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 09:55:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Diabetes Care]]></category>
		<category><![CDATA[Penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[diabetes]]></category>
		<category><![CDATA[kencing]]></category>
		<category><![CDATA[luka]]></category>
		<category><![CDATA[manis]]></category>
		<category><![CDATA[perawatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinikkitamura.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang yang masih mengganggap penyakit diabetes merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor keturunan. Padahal, setiap orang dapat mengidap diabetes, baik tua maupun muda, termasuk Anda. Namun, yang perlu anda pahami adalah anda tidak sendiri. Menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">Banyak orang yang masih mengganggap penyakit diabetes merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor keturunan. Padahal, setiap orang dapat mengidap diabetes, baik tua maupun muda, termasuk Anda. Namun, yang perlu anda pahami adalah anda tidak sendiri.</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">Menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. Pada tahun 2000 yang lalu saja, terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes.</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">Namun, pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 persen yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30 persen yang datang berobat teratur.</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">Sangat disayangkan bahwa banyak penderita diabetes yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit yang lebih sering disebut penyakit gula atau kencing manis. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi di masyarakat tentang diabetes terutama gejala-gejalanya.</div>
<div id="_mcePaste" style="text-align: justify;">Sebagian besar kasus diabetes adalah diabetes tipe 2 yang disebabkan faktor keturunan. Tetapi faktor keturunan saja tidak cukup untuk menyebabkan seseorang terkena diabetes karena risikonya hanya sebesar 5%. Ternyata diabetes tipe 2 lebih sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas alias kegemukan akibat gaya hidup yang dijalaninya.</div>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-51"></span>Banyak orang yang masih mengganggap penyakit diabetes merupakan penyakit orang tua atau penyakit yang hanya timbul karena faktor keturunan. Padahal, setiap orang dapat mengidap diabetes, baik tua maupun muda, termasuk Anda. Namun, yang perlu anda pahami adalah anda tidak sendiri.<br />
Menurut data WHO, Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. Pada tahun 2000 yang lalu saja, terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes.<br />
Namun, pada tahun 2006 diperkirakan jumlah penderita diabetes di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang, dimana baru 50 persen yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30 persen yang datang berobat teratur.<br />
Sangat disayangkan bahwa banyak penderita diabetes yang tidak menyadari dirinya mengidap penyakit yang lebih sering disebut penyakit gula atau kencing manis. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi di masyarakat tentang diabetes terutama gejala-gejalanya.<br />
Sebagian besar kasus diabetes adalah diabetes tipe 2 yang disebabkan faktor keturunan. Tetapi faktor keturunan saja tidak cukup untuk menyebabkan seseorang terkena diabetes karena risikonya hanya sebesar 5%. Ternyata diabetes tipe 2 lebih sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas alias kegemukan akibat gaya hidup yang dijalaninya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sumber: www.medicastore.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinikkitamura.com/?feed=rss2&amp;p=51</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Khitanan Konvensional dan Laser (Couter)</title>
		<link>http://www.klinikkitamura.com/?p=47</link>
		<comments>http://www.klinikkitamura.com/?p=47#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jun 2010 09:47:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Khitanan]]></category>
		<category><![CDATA[khitanan]]></category>
		<category><![CDATA[konvensional]]></category>
		<category><![CDATA[luka]]></category>
		<category><![CDATA[perawatan]]></category>
		<category><![CDATA[sunat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinikkitamura.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Khitan adalah pembuangan kulit kuncup kelamin pada pria dengan cara memotong kulit kuncup kelamin pria sampai batas leher kelamin pria, dilakukan dengan methode Konvensional maupun modern. Khitan bagi umat Muslim hukumnya sunnah yang di haruskan, karena merupakan cara preventif/pencegahan terhadap suatu penyakit kelamin, dan apabila tak di khitan bagi pria Muslim di khawatirkan di daerah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Khitan adalah pembuangan kulit kuncup kelamin pada pria dengan cara memotong kulit kuncup kelamin pria sampai batas leher kelamin pria, dilakukan dengan methode Konvensional maupun modern.</p>
<p style="text-align: justify;">Khitan bagi umat Muslim hukumnya sunnah yang di haruskan, karena merupakan cara preventif/pencegahan terhadap suatu penyakit kelamin, dan apabila tak di khitan bagi pria Muslim di khawatirkan di daerah kelamin masih terdapat najis yang dapat membatalkan dalam ibadah Sholat, hingga bagi pria muslim diharuskan untuk di khitan lebih dahulu.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-47"></span>Cara memotong kulit moncong kelamin pria ada beberapa cara; baik secara Tradisional maupun dengan cara modern ( medis ), doeloe sebelum ada cara-cara modern ; dukun sunat melaksanakan khitan mengabaikan higyenis dan tanpa anaestesi lokal cenderung infeksi dan pendarahan yang hebat ada yang sampai meninggal dunia, apabila Hb dalam darahnya rendah. Dengan demikian darah akan lambat dalam pembekuan, yang pada ahirnya membahayakan nyawa karena pendarahan, belum lagi massa doeloe dalam perawatan masih tradisional terkesan infeksi dan menimbulkan borok hingga lama sembuh bahkan bisa terjangkit tetanus, ini sangat membahayakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu jaman modern sekarang ini tidak perlu diragukan lagi untuk disunat (khitan), bahkan banyak non muslim dikhitan, sebab ditinjau dari segi kesehatan dapat mencegah penyakit kelamin Pria.<br />
Sekarang khitan bukanlah suatu hal yang menakutkan bagi pria, dengan cara medis baik secara Konvensional maupun modern menggunakan Laser/electric cauter sebagai pengganti pisau bisturi untuk memotong kulup ( moncong ) kelamin Pria.</p>
<p style="text-align: justify;">Perbandingan antara KONVENSIONAL dan ELECTRIC CAUTER<br />
Kon = KONVENSIONAL / El : ELECTRIC CAUTER<br />
Kon : Pasien di anaestesi lokal<br />
El : sama<br />
Kon : Pemotongan kulup mamakai pemotonganPisau/Bisturi<br />
El : Pemotongan kulup memakai Filamen pijar<br />
Kon : Pendarahan relatif ada<br />
El : pendarahan nyaris tid, kecuali pria dewasa karena pembuluh darah<br />
lebih besar. Kon : Penyembuhan agak lama 3-7 hari<br />
El : Penyembuhan lebih cepat.<br />
Kon :Bekas luka di jahit?hecting pembuluh darah diikat<br />
El : bisa dijahit bisa tidak<br />
Kon : bekas luka berupa luka sayat<br />
El ; termasuk luka bakar<br />
Kon ; bisa di verban bisa tidak<br />
El ; bisa diverban bisa tidak</p>
<p>Sumber:www.webcache.googleusercontent.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinikkitamura.com/?feed=rss2&amp;p=47</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Luka Dehiscence Masih Menjadi Masalah yang Restropektif pada Abad 21</title>
		<link>http://www.klinikkitamura.com/?p=35</link>
		<comments>http://www.klinikkitamura.com/?p=35#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 08:50:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnal]]></category>
		<category><![CDATA[care]]></category>
		<category><![CDATA[dehiscence]]></category>
		<category><![CDATA[diabetes]]></category>
		<category><![CDATA[luka]]></category>
		<category><![CDATA[woun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.klinikkitamura.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Latar Belakang Tujuan dari studi ini adalah untuk mengevaluasi faktor resiko dari luka dehiscence dan menentukan luka yang mana dapat sembuh. Metode Kami menganalisa 3500 laparotomi, umur diatas 70 tahun, didiagnosa kanker, penyakit obstruktif paru paru kronik, malnutrisi, sepsis, obesitas, anemia diabetes, penggunaan steroid, perokok, dan penggunaan kemoterapi dan radiasi yang memiliki resiko tinggi. Hasil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Latar</strong> <strong>Belakang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tujuan dari studi ini adalah untuk mengevaluasi faktor resiko dari luka dehiscence dan menentukan luka yang mana dapat sembuh.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Metode</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kami menganalisa 3500 laparotomi, umur diatas 70 tahun, didiagnosa kanker, penyakit obstruktif paru paru kronik, malnutrisi, sepsis, obesitas, anemia diabetes, penggunaan steroid, perokok, dan penggunaan kemoterapi dan radiasi yang memiliki resiko tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hasil</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Terdapat Sembilan pasien yang memiliki perkembangan luka dehiscence, laparotomi darurat dilakukan kepada Sembilan pasien tersebut. Pasien-pasien yang memiliki lebih dari tujuh faktor memiliki resiko kematian.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span id="more-35"></span>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Merupakan suatu yang penting bagi dokter untuk mengetahui bahwa pada penyembuhan luka dituntut adanya oksigen yang adekuat, selain itu normaglycemia dan adanya racun atau faktor sepsis dapat mengurangi  faktor sintesis kolagen dan menghambat mekanisme oksidasi neutropil. Selain itu juga dari jenis penutupan abdomen mungkin memberikan peran yang penting. Terbebas adanya tegangan pada penutupan yang dianjurkan dan sebuah penutupan secara utuh merupakan sebuah kelebihan. Jika mungkin lakukan identifikasi sebelum dilakukan operasi dalam rangka meminimalisir terjadinya insiden luka dehiscence yang memiliki angka kematian yang tinggi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Latar Belakang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Luka bedah dehiscence pasca laparatomi tetap menjadi sebuah komplikasi yang serius. Hal ini memperlihatkan sebuah kegagalan dari mekanisme penyembuhan luka bedah insisi. Luka insisi merangsang proses penyembuhan yang pada kenyataannya merupakan suatu yang kompleks dan proses yang terjadi secara terus menerus dengan empat tahapan yang berbeda yaitu hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan maturasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama masa hemostasis, agreget platelet, degranulasi dan pengaktifan pembekuaan darah. Pembekuan darah menurunkan dilatasi kapiler darah dan aliran cairan pada bagian luka dan mengaktifkan komplemen yang ada.</p>
<p style="text-align: justify;">Makrofag, menghancurkan sel dan neutrofil yang merupakan sumber cytokine dan faktor pertumbuhan yang penting untuk penyembuhan luka normal.</p>
<p style="text-align: justify;">Fase proliferasi merupakan fase dari granulasi pembentukan jaringan dari daerah luka yang dimulai pada hari ke tiga pasca operasi dan berlangsung beberapa minggu.</p>
<p style="text-align: justify;">Faktor yang terpenting pada fase ini adalah fibroblast yang bergerak menuju luka dan bertanggung jawab untuk mensintesis kolagen.</p>
<p style="text-align: justify;">Fase maturasi dimulai pada hari ke tujuh setelah operasi dan berlangsung satu tahun atau lebih. Remodeling berkontribusi dalam peningkatan jaringan luka yang sembuh.</p>
<p style="text-align: justify;">Luka dehiscence setelah laparatomy terjadi sekitar 0.25% – 3% pada pasien laparatomy  dan operasi langsung yang memiliki angka kematian sekitar 20%.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi yang berhubungan dengan peningkatan resiko luka dehiscence adalah anemia, hypoalbuminemia, malnutrisi, keganasan, jaundice, obesitas dan diabetes, jenis kelamin laki-laki, pasien tua, dan prosedur pembedahan tertentu seperti bedah kolon atau laparatomy darurat yang berhubungan dengan gangguan luka.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Metode</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Antara tahun 2001 sampai 2007, 3500 laparotomy abdomen dilakukan  di Department Bedah Rumah Sakit Umum dan Daerah Mesologgi. Lima belas pasien dilaporkan dengan luka dehiscence. Laporan medis dari semua pasien ditunjukan dan local, sistemik, faktor operatif dibandingkan (Faktor Analisa).</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Umur lebih dari 70 digambarkan sebagai faktor resiko</li>
<li>Keganasan, kehadiran keganasan selama operasi diperkiran sebagai sebuah faktor resiko</li>
<li>COPD, riwayat medis dari COPD atau PO2 &lt; 60 dan PCO2 &lt; 30 juga diperkirakan menjadi faktor resiko</li>
<li>Malnutrisi, jumlah total serum albumin kurang dari 3.0 mg/dl dan penurunan dari berat badan lebih dari 10 % dalam 10 bulan terakhir diperkirakan sebagai faktor resiko.</li>
<li>Adanya sepsis</li>
<li>Kegemukan, BMI &gt; 35</li>
<li>Radioterapi dan kemoterapi treatment sebelum operasi diperkiran sebagai faktor resiko</li>
<li>Anemia, Hb &lt; 10 mg/dl diperkirakan sebagai faktor resiko</li>
<li>Diabetes diperkirakan sebagai faktor resiko</li>
<li>Steroid treatment dalam 12 bulan terakhir diperkirakan sebagai faktor resiko</li>
<li>Faktor-faktor operatif seperti jenis operasi, bahan jahitan dan perbandingan morbiditas pasca bedah.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hasil</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Lima belas dari 3500 pasien laparatomi berkembang menjadi luka dehiscence (0.43%).</p>
<p style="text-align: justify;">Diagnosa utama dan prosedur awal operasi yang disimpulkan untuk luka dehiscence tercantum pada tabel 1.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Table 1: Diagnosis and operative procedure of the patients with wound dehiscence.</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<table style="text-align: justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="295">
<tbody>
<tr>
<td width="137" valign="top">Diagnosis n</td>
<td width="159" valign="top">Operative procedure n</td>
</tr>
<tr>
<td width="137" valign="top">Ulcer perforation = 3</td>
<td width="159" valign="top">Simple closure = 3</td>
</tr>
<tr>
<td width="137" valign="top">Acute cholecystitis = 2</td>
<td width="159" valign="top">Cholecystectomy = 2</td>
</tr>
<tr>
<td width="137" valign="top">Colon cancer = 5</td>
<td width="159" valign="top">Right colectomy = 3</p>
<p>Abdominoperineal resection = 2</td>
</tr>
<tr>
<td width="137" valign="top">Intestinal obstruction = 2</td>
<td width="159" valign="top">Small intestine resection = 2</td>
</tr>
<tr>
<td width="137" valign="top">Abdominal abscess = 2</td>
<td width="159" valign="top">Small intestine resection = 2</p>
<p>Appendectomy = 1</td>
</tr>
<tr>
<td width="137" valign="top">Liver Hydatide cyst = 1</td>
<td width="159" valign="top">Cystectomy = 1</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align: justify;">Dalam 9 dari 15 pasien  (60%) dilakukan laparotomy  darurat.</p>
<p style="text-align: justify;">Rata-rata umur 69.5 tahun ( antara 55 -81) dan 9 dari meraka adalah laki-laki (60%)</p>
<p style="text-align: justify;">Faktor resiko dan hasil akhir dicantumkan pada tabel 2.</p>
<p style="text-align: justify;">Pasien tua dan riwayat COPD ditunjukan pada 67% kasus. Kanker dan sepsis pada 53.3% kasus.</p>
<p style="text-align: justify;">Adanya anemia, diabetes militus dan riwayat kemoterapi dan radioterapi sebesar 40% pada pasien.</p>
<p style="text-align: justify;">Malnutrisi dan obesitas hadir pada 1/3 pasien kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Hanya 20% dari pasien  yang pernah menerima treatment dengan steroid dalam 12 terakhir.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengenai riwayat pembedahan dan morbiditas setelah operasi, hasil dicantumkan pada tabel 3.</p>
<p style="text-align: justify;">Luka dehiscence di obeservasi lebih dari 9.2 hari setelah operasi (antara hari ke 6 sampai hari ke 9)</p>
<p style="text-align: justify;">Mengenai tipe insisi atau penutupan abdomen, hanya tampak dari jahitan pada linia alba (10/14) pasien yang berperan dalam luka dehiscence. Faktor ini merupakan parameter pada masa lalu sebagai sebuah faktor resiko yang mungkin terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Semua pasien di operasi kembali setelah didiagnosa luka dehiscence dan tiga diantara mereka (20%) meninggal dunia karena komplikasi pasca operasi. Satu diantara mereka  diamati adanya luka dehiscence kembali. Mengenai faktor resiko pre operasi, ¾ (75%) pasien yang memiliki 7 faktor resiko atau lebih meninggal dunia. Penutupan abdomen menggunakan jahitan pada 4 kasus, penutupan pada 2 kasus, dan retensi jahitan pada 9 kasus.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Diskusi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Luka dehiscence merupakan sebuah kegagalan dari mekanisme penyembuhan luka, tetap menjadi sebuah permasalahan dan dapat dipengaruhi akibat berbagai faktor.</p>
<p style="text-align: justify;">Kondisi preoperative khususnya dalam operasi elektif harus dianjurkan untuk mengurangi atau menghilangkan resiko. Tidak ada penggunaan tembakau, steroid pada pembedahan, hati hati dalam control pasien dengan anemia, malnutrisi, obesitas, penyakit jantung dan paru.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama prosedur pembedahan, mengukur terjadinya resiko infeksi dan hipoksia pada jaringan merupakan faktor penting setelah operasi dalam proses penyembuhan luka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai dokter sangat penting untuk mengetahui bahwa penyembuhan luka dibutuhkan oksigen yang adekuat, normaglycemia, dan adanya faktor sepsis dan racun yang menurunkan sintesis kolagen yang dapat menghancurkan mekanisme oksidatif dari neutrofil.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kesimpulan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kesimpulan operasi ulang haruslah menggunakan strategi tertentu seperti menggunakan penutup vakum pada pasien dalam penyembuhan atau penggunaan tekhnik tegangan jala bebas dalam rangka  mengurangi ketegangan dinding perut.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.klinikkitamura.com/?feed=rss2&amp;p=35</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
